Dalamrangka memperkenalkan program sekolah kepada Orang Tua Murid kelas 10,11, dan 12 sekaligus bersilaturahmi antara Pimpinan sekolah, Guru, Jammiyah, dan Orang Tua Murid, maka pada awal tahun ajaran baru sekolah mengadakan acara Pertemuan Awal Tahun (PAT) dengan memberikan beberapa informasi program sekolah seperti, program kurikulum, kemuridan, pertahanan sekolah, sekaligus tata tertib Mengikuti dan menaati semua program dan kegiatan yang ditetapkan oleh VCA untuk Full On-Line VCA Student, termasuk Orientation Camp, Care Group untuk murid, dan untuk orang tua diwajibkan hadir dalam semua Pertemuan Orang tua.- Mengikuti seluruh kurikulum dan standar penilaian yang ditetapkan oleh VCA. CATATANPERTEMUAN DENGAN GURU/ ORANG TUA SISWA Hari, tanggal: 2015 Topik Permasalahan : Tempat Pertemuan : R-801 (R Matematika) Hasil Pertemuan : Status Konsultasi : Selesai, Belum Selesai *) Sorowako, Guru / Orang Tua Siswa, Rencana dilanjutkan : . 2015 Guru Bidang Studi, Abdul Rahman. Lainnya Dari Abdul Rahman Daeng Taba. Karusel Sebelumnya Fast Money. Dalam beberapa dekade terakhir, siswa di Indonesia belum mencapai hasil yang baik dalam berbagai tes internasional. Meskipun demikian, sebagian besar masyarakat – khususnya mereka yang miskin, dan berada di daerah perdesaan dan tertinggal – belum menyadari tantangan tersebut. Survei yang dilakukan Bank Dunia pada 2016-2017 di 270 Sekolah Dasar SD sangat terpencil di Indonesia menemukan bahwa hasil pembelajaran sebagian besar siswa masih berada pada dua jenjang di bawah kelas mereka. Yang juga mengejutkan, survei yang sama menemukan 83% orang tua siswa merasa puas dengan kinerja sekolah. Dengan pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan akuntabilitas guru di daerah terpencil, melalui program KIAT Guru, Bank Dunia mendukung pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan di desa sangat tertinggal. Di Indonesia, seringkali orang tua tidak mengetahui perkembangan belajar anak mereka dibanding siswa di kelas maupun sekolah lain. Ini disebabkan tolak ukur hasil belajar hanya tersedia melalui Ujian Nasional pada jenjang terakhir sekolah dasar. KIAT Guru mengembangkan Tes Cepat agar masyarakat dapat menilai dan memantau perkembangan hasil belajar siswa secara sederhana dan lebih rutin. Pelaksanaan Tes Cepat melibatkan orang tua untuk memahami keadaan pembelajaran siswa, dan memampukan masyarakat untuk mengambil tindakan bersama dengan pemangku kepentingan lain dalam meningkatkan kualitas pendidikan dasar di desa mereka. Tes Cepat dikembangkan berdasarkan sebuah gerakan yang dipelopori oleh Pratham di India melalui Annual Status of Education Report. Penilaian yang dilakukan oleh masyarakat memastikan objektifitas hasil tes dapat lebih diandalkan dibanding jika penilaian dilaksanakan oleh pihak sekolah. Melalui tampilan hasil tes yang mudah dipahami, pemangku kepentingan dapat lebih menghargai prestasi siswa SD dalam membaca dan matematika, dibandingkan dengan target kurikulum nasional. Tampilan tersebut sangat penting untuk memberikan informasi yang dapat dipahami dan ditindaklanjuti oleh masyarakat, dan memberdayakan mereka untuk lebih terlibat dalam pengambilan keputusan mengenai pendidikan anak-anak mereka. Meskipun tidak terlibat langsung dalam pelaksanaan tes, para guru ikut serta dalam mendiseminasi hasil tes dalam pertemuan-pertemuan di desa. Pemangku kepentingan melihat hasil Tes Cepat dalam tabel sederhana seperti di bawah. Enam murid dipilih secara acak untuk mewakili kelasnya. Jika kemampuan murid berada pada kelasnya, dia akan terhitung dalam kotak berwarna hijau. Murid yang memiliki kemampuan di bawah kelasnya akan berada di sebelah kiri kotak berwarna hijau, termasuk mereka yang belum mengenal huruf atau belum mengenal angka. Kelas Belum Mengenal Huruf/ Belum Mengenal Angka Di bawah Kemampuan Dasar 1 2 3 4 5 6 Jumlah Murid 1 5 1 0 0 0 0 0 0 6 2 3 2 0 1 0 0 0 0 6 3 0 0 0 5 1 0 0 0 6 4 0 0 0 0 1 4 1 0 6 5 0 0 0 1 0 5 0 0 6 6 0 0 0 0 1 1 4 0 6 Dengan melihat hasil penilaian tersebut, orang tua menyadari bahwa anak mereka belum memiliki kemampuan dasar yang dibutuhkan untuk mengikuti pembelajaran di kelasnya dengan baik. Hal ini mendorong orang tua untuk menuntut kinerja yang lebih baik dari guru, dan untuk terlibat lebih aktif dalam pendidikan anaknya. Ketika hasil Tes Cepat diumumkan kepada orang tua dan masyarakat untuk pertama kalinya, salah satu orang tua pun bertanya kepada guru, “Jika anak saya tidak memiliki kemampuan membaca dan berhitung, kenapa dia naik kelas?” Alur penilaian Tes Cepat bersifat adaptif, sehingga memungkinkan murid untuk menyelesaikannya dalam waktu kurang dari 30 menit. Murid memulai tes dengan soal yang sesuai dengan jenjang kelasnya. Jika jawaban dia benar, maka akan mendapatkan soal lebih sulit, dan sebaliknya jika salah akan mendapatkan soal yang lebih mudah. Tingkat kesulitan tes berjalan sesuai dengan kemampuan murid dan berakhir pada soal yang paling sulit yang dapat dijawab oleh anak dan menunjukkan tingkat kompetensinya. Tes Cepat menjembatani kesenjangan informasi tentang kualitas pembelajaran antara orang tua dan guru, maupun pengawas sekolah dan pihak sekolah. Diseminasi Tes Cepat menghasilkan tindakan nyata untuk memperbaiki lingkungan belajar anak di sekolah maupun di rumah. Berbeda dengan perangkat penilaian berbasis masyarakat lainnya, Tes Cepat tidak menyasar pada intervensi perbaikan metode pembelajaran di kelas. Hasil Tes Cepat digunakan oleh masyarakat dan sekolah untuk mengembangkan Janji Bersama, yang berisi tiga indikator berkaitan yang disepakati oleh kepala sekolah, guru, dan orang tua. Kategori Janji Bersama termasuk peningkatan kehadiran guru di dalam kelas, kegiatan pembelajaran di rumah, serta pendampingan pembelajaran remedial. Dengan Janji Bersama, guru dan orang tua dapat memonitor kinerja masing-masing tiap bulan. Pada akhir semester, Tes Cepat kembali dilakukan untuk memantau perkembangan pembelajaran setelah Janji Bersama dilakukan, dan sekaligus memberikan input bagi perbaikan Janji Bersama untuk semester selanjutnya. Saat masyarakat memahami kualitas pendidikan, mereka pun lebih berdaya untuk bertindak dan mengajak pemangku kepentingan di sekitarnya untuk bersama-sama memperbaiki ekosistem belajar. Setelah satu tahun berjalannya program KIAT Guru, pertemuan antara guru dan orang tua murid untuk membahas hasil belajar meningkat dari kali ke 3 kali dalam satu tahun. Hasil belajar murid juga meningkat 12% kenaikan, untuk rerata numerasi dari 37 ke 49, sementara untuk rerata literasi dari 37 ke 50 13% kenaikan. Terkait Empowering Frontlines, Leveraging Technology Basic Service Delivery in 21st century Indonesia Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Penulis menemukan beberapa konten yang berisi kekecewaan orang tua murid terhadap guru di media sosial. Banyak yang memberikan komentar dukungan terhadap pihak tersebut namun sayangnya disertai dengan kalimat memojokan kepada pihak guru atau sekolah. Sebagai seorang pendidik penulis merasa prihatin dengan menjamurnya konten-konten serupa yang disebar ke khalayak umum. Terlihat dengan jelas kekecewaan pihak tersebut dengan konten yang provokatif sehingga bisa menggiring opini negatif terhadap pihak yang tidak tahu kronologis kejadian ikut memberikan komentar memojokan. Jelas ini bukanlah cara yang tepat untuk menyampaikan pendapat ataupun memperbaiki keadaan. Menyimak cerita dari salah satu pihak hanya akan menimbulkan kesalahpahaman yang jauh lebih besar. Bahkan bisa menimbulkan masalah tersebut membuat penulis merasa hubungan antara pihak sekolah atau guru dengan pihak orang tua murid tidak harmonis. Semestinya ada kolaborasi yang kuat antara kedua belah pihak untuk bersama-sama mendidik murid di rumah dan di sekolah. Komunikasi yang terjalin dengan baik akan meminimalisir kesalahpahaman. Memberikan kesempatan yang seluas luasnya untuk berdiskusi mengenai perkembangan murid. Segala informasi diterima dengan pemikiran terbuka, hati yang lapang dan tentunya saling menghormati. Kerjasama antara guru dengan Orang tua murid merupakan hal yang sangat penting dilakukan untuk mendidik murid. Pendidikan yang efektif dan efisien tidak akan berhasil tanpa adanya kolaborasi antara orang tua di rumah dan guru sebagai orang tua di sekolah. Kedua belah pihak perlu melakukan kerjasama yang harmonis demi kebaikan. dokumentasi pribadi Pertemuan rutin merupakan salah satu cara yang penulis lakukan untuk menjalin kerjasama dengan orang tua murid. Pada awal tahun ajaran penulis bersama orang tua murid melakukan pertemuan untuk membahas program-program yang akan dilaksanakan satu tahun kedepan. Salah satunya adalah pertemuan rutin setiap tiga bulan sekali sesuai dengan kesepakatan. Ada banyak sekali manfaat dari pertemuan rutin yang kami sebut sebagai Paguyuban Orang tua Kelas dua, yaitu sosialisai program;membahas perkembangan murid selama 3 bulan terakhir dari sisi akademik dan sosial;membahas isu terkini; menyampaikan saran dan masukan;guru dan orang tua murid sama-sama mendapatkan informasi penting mengenai murid di rumah dan di sekolah;meningkatkan hubungan yang berkualitas antara guru dan orang tua murid. dokumentasi pribadi Makan bersama setelah kegiatan. Kegiatan ini bisa dilaksanakan di sekolah atau bisa di luar sekolah seperti rumah orang tua murid ataupun rumah guru. Pembahasaan agenda paguyuban kelas disampaikan secara santai. Suasana kaku antara orang tua murid dan guru saat berdiskusi tidak tampak sama sekali. Obrolan hangat disertai canda tawa mewarnai kegiatan. Guru menyampaikan program kelas, kondisi kelas, maupun isu terhangat mengenai anak. Kadang disisipi parenting untuk menambah wawasan pendidikan bagi orang tua. Orang tua bisa menyampaikan pendapat, saran dan masukan bagi pihak sekolah. Guru juga mendapatkan banyak informasi mengenai kondisi murid di rumah. Pertemuan diakhiri dengan makan bersama. Para orang tua dan guru membawa bekal dari rumah masing-masing. Saling mencoba makanan sehingga semakin akrab. Hubungan seperti ini membuat kami saling mengenal satu sama lain. Kesalahpahaman bisa langsung dikomunikasikan dan diluruskan dengan santai. Guru juga membuka komunikasi yang seluas-luasnya bagi orang tua murid di luar pertemuan rutin tiga bulan sekali. Bisa menghubungi guru via medsos atau berdiskusi secara langsung di luar jam pelajaran. Dokpri Pertemuan rutin paguyuban orang tua kelas dua telah tiga kali dilaksanakan sepanjang tahun ajaran ini. Manfaat pertemuan ini sangat terasa. Program di kelas pun bisa berjalan baik dengan dukungan dari orang tua murid. Tantangan utama kegiatan ini adalah kehadiran orang tua murid pada pelaksanaan kegiatan. Beberapa berhalangan hadir dikarenakan sakit, ada keperluan atau bahkan ada yang tidak pernah hadir sama sekali. Penulis berharap kedepannya program paguyuban kelas bisa terlaksana lebih baik, dilaksanakan di setiap sekolah bahkan kelas dengan dukungan penuh dari para orang tua murid. Mengingat pentingnya kerjasama antara orang tua murid dan guru pihak sekolah untuk mendukung pendidikan anak. 1 2 Lihat Pendidikan Selengkapnya Kerja sama orang tua dan guru – Ketika mendidik anak orang tua perlu memperhatikan banyak aspek. Mulai dari lingkungan tempat tinggal, lingkungan sekolah, hingga lingkungan pertemanan. Hal ini tentu sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak. Dalam lingkungan sekolah, Anda sebagai orang tua perlu membuat sinergi dengan pihak sekolah, khususnya dengan guru. Karena, dalam pendidikan orang tua dan guru adalah tonggak utama dalam membangun karakter anak. Orang tua dan guru perlu melakukan kerja sama yang kompak dan bersinergi agar dalam proses pendidikan anak dapat meraih hasil yang optimal. Pemahaman ini seharusnya menjadi dasar yang perlu diketahui oleh orang tua dan guru. Anda sebagai orang tua tidak bisa menyerahkan seluruh hal tentang pendidikan anak kepada guru. Karena itu menjadi kewajiban kedua belah pihak. Di tengah pandemi Covid-19 ini kegiatan belajar mengajar di sekolah terpaksa harus dihentikan. Kemudian, pemelajaran harus dialihkan dengan menggunakan metode daring. Untuk itu orang tua perlu memberi perhatian khusus pada anak ketika sedang belajar di rumah. Bentuk Kerja Sama Guru dan Orang Tua Pandemi membuat orang tua lebih terlibat dalam pendidikan anak. Bahkan keterlibatan orang tua begitu signifikan. Banyak diantara orang tua yang sangat kewalahan, terutama awal-awal anak belajar di rumah. Bayangkan saja, dulu mungkin orang tua menyerahkan hampir seluruhnya masalah pendidikan atau pelajaran di sekolah pada guru. Jika anak masih membutuhkan bantuan orang tua sering kali mencarikan guru les. Kondisi pandemi membuat mata semua orang terbuka, tentang pendidikan anak di sekolah, kemampuannya, kelebihannya, dan hal lain yang menjadi tantangan atau kendala untuk anak. Orang tua menjadi semakin melek bahwa kerja antara orang tua dan guru itu sangat penting. Sejatinya, pendidikan adalah proses kerja tim yang meliputi guru, orang-orang di sekitar anak, mulai dari teman, keluarga, dan tetangga rumah, dan tentu jelas orang tua. Guru adalah patner orang tua dalam mendidik anak. Oleh karena itu guru bukanlah aktor tunggal yang menentukan keberhasilan pendidikan anak. Jadi, jangan enggan untuk mencampuri proses pendidikan anak. Jangan menyerahkan semua pendidikan pada guru anak sepenuhnya. Orang tua harus memiliki andil yang imbang juga. Kerja Sama Guru dan Orang Tua dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kerja sama guru dan orang tua menjadi sangat penting untuk perkembangan pendidikan anak. Beberapa kerja sama yang dapat dilakukan orang tua dengan guru akan berdampak baik untuk tumbuh kembang anak dalam belajar. Menjadi contoh yang baik, karena anak-anak lebih meniru perilaku orang dewasa di sekitarnya, terutama para orang tua. Memberikan contoh yang nyata dalam kehidupan sehari-hari jauh lebih efektif daripada sekadar memberikan nasehat. Lakukan komunikasi aktif dengan anak. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kosakata anak, menumbuhkan empati pada orang lain dan lingkungan, serta mengajari anak kritis dalam menghadapi berbagai persoalan. Tanyakan berbagai hal padanya, dengarkan pendapatnya. Anak yang aktif berkomunikasi dengan orang tuanya cenderung aktif dalam diskusi di kelas. Semangati anak untuk melakukan usaha yang terbaik. Serta beri pengertian pada anak untuk fokus pada prosesnya dalam belajar bukan pada hasil akhir. Karena proses itu yang akan membuat anak banyak belajar ketika membuat kesalahan. Berikan anak kesempatan untuk berbuat salah. Tidak mendapatkan nilai akademis sempurna bukanlah akhir dari segalanya. Biarkan anak dihukum karena tidak mengerjakan pekerjaan rumah atau membawa tugas. Tidak masalah jika semester ini nilainya turun. Anak juga perlu belajar dari kesalahan dan menerima konsekuensinya. Anak tidak perlu selalu harus dibantu, karena anak yang selalu dibantu untuk tampil sempurna, biasanya tidak tahan banting. Dukung sekolah mematuhi tata tertib dan kebijakan sekolah, agar anak belajar menghargai dan disiplin. Jika anak mengalami hambatan di sekolah, bicarakan dengan wali kelasnya sesegera mungkin untuk mendapatkan jalan keluar dan tidak berlarut-larut. Hasil Kerja Sama Guru dan Orang Tua Kerja sama antara guru dan orang tua dalam pendidikan anak akan menghasilkan karakter anak yang berkualitas. Pemahaman mengenai keterlibatan guru dan orang tua dalam pendidikan anak akan membuat anak merasa nyaman ketika belajar. Anak akan merasakan bahwa apa yang dilakukan oleh orang tua atau gurunya terhadapnya selaras. Hal tersebut akan menimbulkan kesadaran pada anak bahwa apa atau nilai-nilai yang sedang diajarkan adalah sama. Itu akan membentuk karakter anak yang makin kuat dan lekat. Sinergi antara orang tua dan guru akan menghasilkan pendidikan untuk anak yang berkualitas, anak juga akan nyaman dengan apa yang ia pelajari baik dengan gurunya atau orang tuanya. Manfaat Kerjasama Guru dengan Orang Tua Murid Sebagai orang tua, apakah Anda sudah pernah bertemu dengan guru anak Anda untuk membahas tentang pendidikannya? Mungkin beberapa sekolah sudah mengadakan pertemuan dengan orang tua murid, terutama untuk orang tua murid baru. Biasanya pada pertemuan tersebut pihak sekolah memperkenalkan para guru dan karyawan, serta menjelaskan berbagai kegiatan belajar mengajar, masalah administrasi, dan lain sebagainya. Sekolah sebagai mitra orang tua dalam mendidik anak, untuk itu perlu adanya sinergi dan kerja sama aktif antara guru dengan orang tua. Oleh sebab itu keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak di sekolah merupakan kerja sama jangka panjang. Keterlibatan orang tua ada yang bersifat praktis dan ada pula yang bersifat konseptual. Keterlibatan yang bersifat praktis misalnya berkenalan dan menjalin komunikasi dengan para guru, minimal wali kelas anak. Menjalin komunikasi bukan hanya saat anak mendapat masalah atau saat menerima rapot, namun juga bisa bertegur sapa dan menanyakan perkembangan anak secara berkala. Selain itu, orang tua juga dapat terlibat aktif dalam kegiatan komite sekolah atau organisasi orang tua murid di sekolah. Ada banyak yang membutuhkan peran aktif orang tua, seperti kegiatan bazar maupun seminar. Sementara, keterlibatan orang tua dalam hal konseptual antara lain menyumbangkan ide untuk kemajuan sekolah, misalnya memberikan masukan mengenai syarat kantin sekolah, latihan evakuasi, dan lain sebagainya. Hal itu bertujuan bukan hanya untuk kemajuan sekolah, namun juga untuk kebaikan anak sendiri. Manfaat keterlibatan orang tua di sekolah anak antara lain dapat meningkatkan semangat anak dalam belajar, karena mereka menyadari orang tuanya selalu ada untuk mereka. Anak juga merasa bangga melihat orang tuanya aktif di sekolah, pasti mereka anak merasa nyaman. Hal ini tentu berdampak positif bagi perkembangan berbagai kemampuan anak. Ini juga membantu guru dan memperlancar kegiatan belajar mengajar di sekolah. Kerja Sama antara Guru dan Siswa di Sekolah Di masa pandemi Covid-19 ini, pembelajaran tidak dilakukan secara tatap muka. Pembelajaran harus melalui sistem online. Pembelajaran jarak jauh ini menjadi konsep yang baru bagi dunia pendidikan. Dalam hal ini teretaksi guru dan siswa harus berjalan dengan baik. Akan tetapi, kenyataannya tidak seperti yang diharapkan. Dibuktikan dengan beberapa siswa yang tidak mengerjakan tugas. Hal tersebut membuat peran utama orang tua sebagai tempat pendidikan pertama di keluarga menjadi sangat signifikan. Orang tualah yang harus mendampingi putra-putrinya dalam proses pembelajaran jarak jauh PJJ. Apalagi, jika anak masih dalam jenjang SMP ke bawah, ini sangat membutuhkan pendampingan orang tua atau wali siswa ketika kegiatan pembelajaran jarak jauh PJJ sedang berlangsung. Kerja sama adalah kegiatan atau usaha yang dilakukan oleh dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan bersama. Orang tua adalah sosok yang seharusnya paling mengenal kapan dan bagaimana anak belajar sebaik-baiknya. Pembelajaran daring merupakan pemanfaatan jaringan internet dalam proses pembelajaran. Dengan pembelajaran daring, ketika masih dalam kondisi pandemi seperti sekarang ini, kegiatan belajar mengajar tetap bisa dilaksanakan walaupun tidak dengan tatap muka, karena memang mobilisasi masih dibatasi. Untuk itu perlu adanya adaptasi terhadap hal-hal baru ini, khususnya pembelajaran jarak jauh. Orang tua perlu memberi pengertian pada anak untuk mulai belajar menyesuaikan diri dengan pembelajaran jarak jauh ini. Supaya anak tetap bisa belajar dengan nyaman walaupun tidak bertemu langsung. Ketika orang tua atau wali sudah memberikan pengertian atau pemahaman pada anak, diharapkan anak bisa bekerja sama secara baik dengan guru ketika pembelajaran daring sedang berlangsung. Pendampingan oleh orang tua atau wali juga diperlukan untuk memastikan bahwa anak benar-benar nyaman dan dapat mengikuti kegiatan pembelajaran daring dengan baik. Kerja Sama Orang Tua dan Guru dalam Pembelajaran Daring Guru dan orang tua hakekatnya memiliki tujuan yang sama dalam pendidikan anak. Yaitu, mendidik, membimbing, membina, serta memimpin anaknya menjadi orang dewasa serta dapat memperoleh kebahagiaan hidupnya baik di dunia maupun di akhirat kelak. Untuk mewujudkan harapan tersebut tentu harus ada kerja sama yang baik antara guru dan orang tua. Kerja sama yang baik antara guru dan orang tua sangat penting karena kedua belah pihak inilah yang setiap hari berhadapan langsung dengan anak. Jika kerja sama antara guru dan orang tua kurang baik, maka pendidikan anak tidak akan berjalan dengan maksimal. Kerja sama antara kedua belah pihak ini mendorong siswa untuk senantiasa melaksanakan tugasnya sebagai pelajar, yaitu belajar dengan tekun serta bersungguh-sungguh. Pembelajaran Daring Sudah hampir dua tahun pandemi Covid-19 telah melanda dunia ini. Virus yang melanda seluruh dunia yang menjadi kendala sebagian besar umat manusia, hal ini memberikan perubahan besar bagi seluruh kehidupan masyarakat dunia. Dampak yang dialami terasa sampai seluruh aspek di kehidupan, terlebih lagi di bidang ekonomi. Namun, di samping itu dampak yang sangat dirasakan dari pandemi Covid-19 ini adalah bidang pendidikan. Di bidang pendidikan, pemerintah terpaksa membuat kebijakan untuk menutup sekolah dan mengalihkan seluruh kegiatan pembelajaran luring menjadi pembelajaran daring, atau sering disebut pembelajaran jarak jauh PJJ. Oleh karena itu perlu adanya kerja sama antara guru dan orang tua murid dalam melaksanakan pembelajaran daring ini, di mana kedua belah pihak bisa saling memahami, mengenal, menghormati, serta saling mendukung satu sama lain untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan baik. Hal tersebut akan sulit dijalankan apabila kedua orang tua bekerja dan tidak bisa membimbing anaknya dalam mengikuti pembelajaran daring. Diperlukan kerja sama yang baik agar keterlibatan orang tua dalam pembelajaran di rumah dapat berjalan dengan maksimal. Pelaksanaan pembelajaran dari rumah menggunakan metode dan media pembelajaran jarak jauh PJJ dalam jaringan daring dan luar jaringan luring. Media pembelajaran jauh secara luring dilakukan melalui program siaran televisi nasional, radio, modul belajar mandiri dan lembar kerja, alat peraga dari benda dan lingkungan sekitarnya, serta bahan ajar cetak. Sedangkan media pembelajaran jarak jauh daring terdapat dua puluh tiga lama yang dianjurkan oleh Kemendikbud untuk diakses oleh peserta didik sebagai sumber belajar. Tujuan pelaksanaan belajar dari rumah adalah memastikan pemenuhan hak peserta didik untuk mendapatkan layanan pendidikan selama darurat Covid-19, melindungi warga satuan pendidikan dari dampak buruk darurat Covid-19, mencegah penyebaran dan penularan Covid-19 di satuan pendidikan serta memastikan pemenuhan dukungan psikososial bagi pendidik, peserta didik, dan orang tua. Dengan kondisi seperti saat ini tentu peran orang tua di rumah dalam hal pendidikan anak menjadi sangat krusial. Orang tua dituntut untuk mampu menjadi tenang pendidik di rumah atau minimal bisa menemani dan mengawasi anak ketika sedang melakukan pembelajaran jarak jauh serta mengerjakan tugas. Sekolah yang Memiliki Program Pengembangan dan Pendidikan Orang Tua Pengetahuan dasar orang tua tentang bagaimana mendidik anak kadang menjadi masalah utama yang bisa menjadi sebab pendidikan anak kurang optimal, masih ada orang tua yang beranggapan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab sekolah. Hal ini menjadikan orang tua tidak paham akan peran dan tanggung jawab mendidik anak. Sementara itu program pendidikan orang tua akan pentingnya pola asuh dan mendidik anak masih sangat terbatas. Begitu pula dengan program sekolah yang mencoba mengajak dan melibatkan orang tua dalam melangsungkan proses pendidikan secara berkesinambungan untuk anak juga masih sangat minim. Meningkatkan pengetahuan dasar orang tua dalam mendidik anak menjadi program yang perlu dan terus dikembangkan. Sekolah dan keluarga semestinya berjalan harmonis untuk melakukan proses pendidikan dan pembelajaran bagi anak. Sekolah dapat mengambil peran lebih yaitu dengan mengembangkan program pendidikan untuk orang tua. Program tersebut dapat menjadi komunikasi sinergis antara orang tua dan sekolah, terutama guru, dalam memantau tumbuh kembang anaknya. Selain itu program pendidikan untuk orang tua siswa ini juga bisa diisi dengan berbagai materi yang dapat memberikan wawasan orang tua tentang pendidikan anak. Program pendidikan orang tua siswa merupakan program yang diinisiasi oleh pihak sekolah, tujuannya adalah meningkatkan wawasan dan pengetahuan dasar orang tua tentang pendidikan anak. Namun seperti apa program yang telah dikembangkan perlu dikaji, dianalisa, dan didiskusikan lebih mendalam. Bagaimana kurikulumnya, strategi dan metode penyampaiannya, media dan bahan ajarnya, serta instruktur dan fasilitatornya. Dari permasalahan tersebut dan program pendidikan orang tua sebagai upaya peningkatan kualitas pendidikan serta pelibatan orang tua secara merata, perlu pemetaan dan kajian pengembangan program sekolah untuk orang tua siswa. Usaha ini akan bermanfaat bagi upaya strategis sekolah maupun pemerintah dalam meningkatkan pendidikan pada masyarakat. Baca juga Mengajarkan Pentingnya Pendidikan Sex untuk Anak Sedini Mungkin

pertemuan orang tua murid dan guru